Pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Kabupaten Labuhanbatu Utara masih menghadapi tantangan besar. Infrastruktur perkebunan belum memadai, alih fungsi lahan, serta keberadaan sawit di luar zona peruntukan menimbulkan masalah tata ruang dan produktivitas. Risiko kebakaran, pengelolaan gambut yang lemah, serta terbatasnya bibit unggul memperburuk kondisi. Sementara itu, banyak tanaman sawit sudah tua, Good Agricultural Practices (GAP) belum terstandar, dan pencurian hasil kebun masih terjadi. Konflik lahan, kurangnya data pekebun rakyat, lemahnya pengawasan lingkungan, serta minimnya kolaborasi multipihak semakin memperkuat urgensi perbaikan tata kelola. Upaya peremajaan, standardisasi GAP, dan penguatan sinergi antar pihak menjadi kunci dalam mendorong sawit berkelanjutan di wilayah ini. |