| Abstract: |
| Lanskap Mollo Benain, yang membentang seluas 14.741 hektare di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), memegang peran vital sebagai kawasan hulu sub-sub DAS Benain yang menopang kehidupan lebih dari 70.000 jiwa di 20 desa. Meskipun didominasi oleh Area Penggunaan Lain (APL) untuk pertanian subsisten dan komersial, wilayah ini rentan terhadap degradasi lahan, kekeringan, dan longsor akibat praktik tebas bakar, ladang berpindah, serta penggembalaan liar secara masif. Kondisi biofisik yang kritis ini secara langsung berdampak pada tingginya angka kemiskinan dan kasus stunting akibat minimnya akses terhadap layanan dasar serta pasar. Merespons tantangan tersebut, CIFOR-ICRAF melalui program Land4Lives memfasilitasi pembentukan Rencana Pengelolaan Lanskap kolaboratif guna mewujudkan visi pengelolaan bentang lahan yang berkelanjutan sebagai upaya nyata untuk mengentaskan kemiskinan dan stunting.
Untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam aksi nyata, dokumen ini menetapkan 4 strategi utama yang berfokus pada konservasi tanah dan air, optimalisasi Perhutanan Sosial, penguatan rantai nilai pertanian-peternakan, serta pemenuhan gizi pangan keluarga. Salah satu implementasi konkretnya adalah pengembangan model bisnis agroforestri berbasis kearifan lokal (mamar) yang memadukan komoditas kopi arabika, jeruk So'e, dan alpukat So'e. Transisi dari sistem pertanian monokultur tradisional menuju model mamar dengan praktik budidaya yang baik (Good Agricultural Practices) ini diproyeksikan mampu meningkatkan Net Present Value (NPV) hingga 245% dan memberikan imbalan tenaga kerja yang jauh lebih kompetitif. Keberhasilan transformasi ekologis dan ekonomi ini sangat bergantung pada komitmen sinergis lintas pihak—mulai dari pemerintah, masyarakat desa, hingga sektor swasta—serta pengintegrasian rencana ini ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD. |
|