| Abstract: |
| Dokumen ini merumuskan arahan strategis untuk memulihkan fungsi hidrologis dan ekologis di kawasan seluas 327.515 hektare yang melintasi 4 kabupaten di Nusa Tenggara Timur. Dengan hampir separuh wilayahnya (47% atau 152.372 hektare) berstatus agak kritis hingga sangat kritis akibat alih fungsi lahan dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, DAS Benain kini rentan terhadap erosi, banjir, dan kekeringan ekstrem. Merespons krisis tersebut, Peta Jalan ini menawarkan intervensi rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi biofisik dan sosial-ekonomi masyarakat melalui empat skenario utama: reboisasi intensif di kawasan hutan, penghijauan lingkungan di luar kawasan hutan, Reboisasi/Penghijauan agroforestri, serta penerapan Konservasi Tanah dan Air (KTA) melalui pembuatan rorak dan terasering.
Dalam aspek implementasi, pendekatan agroforestri menjadi sorotan utama karena dinilai mampu menyeimbangkan pemulihan lingkungan dengan ketahanan ekonomi masyarakat secara win-win. Praktik agroforestri—baik di kawasan hutan lindung, hutan produksi, maupun lahan milik warga—mengombinasikan tanaman berkayu cepat tumbuh (fast-growing species) seperti mahoni dan gmelina, dengan komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti kemiri, alpukat, jagung, dan kacang tunggak. Analisis kelayakan ekonomi memproyeksikan bahwa integrasi agroforestri dengan infrastruktur KTA selama 30 tahun akan menghasilkan Net Present Value (NPV) positif dan rasio manfaat-biaya (BCR) lebih dari 1, yang mengindikasikan prospek profitabilitas yang menjanjikan bagi para petani. Keberhasilan peta jalan ini sangat bergantung pada sinergi lintas pihak (pemerintah pusat/daerah, sektor swasta, dan masyarakat), optimalisasi pendanaan inovatif dari Dana Desa dan insentif jasa lingkungan, serta komitmen kuat dalam pengarusutamaan gender pada setiap tahapan rehabilitasi. |
|